Hafal Al-Quran di Usia Belia

Breaking News

  • Kunjungan Gubernur Sumbar ke Sekolah Semut-Semut

    Kunjungan Gubernur Sumatera Barat terpilih, H Mahyeldi Ansharullah ke Sekolah Komunitas Semut-Semut Payakumbuh, Sabtu (6/2/2021) membicarakan tentang konsep dan kurikulum sekolah Islam.

  • Menjadikan Balita Hafal 1 Juz dalam 4 Bulan

    Tahfidz Anak Usia Dini (TAUD) Sekolah Semut-Semut Payakumbuh membuktikan keberhasilan metode talqin untuk menghafal Al-Quran. Dalam acara haflah Laporan Akhir Semester, Senin (14/12/2020) lalu, para balita ini telah hafal juz 30 hanya dalam 4 bulan.

  • Kunjungan Kakek KH Tengku Zulkarnain ke Sekolah Semut-Semut

    Da'i Nasional yang juga Wasekjen MUI Pusat, KH Tengku Zulkarnain bertandang ke kampus Sekolah Semut-Semut Payakumbuh, Ahad (6/9/2020). Kepada wali murid, Dai Nasional tersebut berpesan agar terus membersamai anak-anak mereka menghafal Al-Quran sampai khatam 30 juz.

  • Mantan Rocker Derry Sulaiman Konser di Depan Murid Semut-Semut

    Da'i yang juga mantan rocker Ustadz Derry Sulaiman menyempatkan untuk hadir di Sekolah Semut-Semut Payakumbuh Ahad (18/10/2020). Di hadapan wali murid, Ustadz Derry bercerita bahwa ini pengalaman pertamanya 'manggung' dihadapan anak-anak balita.

  • Rihlah Keluarga Besar Sekolah Semut-Semut

    Keunggulan sekolah komunitas dilihat dari kekompakan para wali muridnya. Sebagaimana terlihat dalam rihlah di Obyek Wisata Syari'ah Torang Saribulan, Ahad (27/9/2020).

Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan

Kisah Telaga di Tengah Kampung


Alkisah, tersebutlah satu kampung yang berada di tengah gurun pasir yang sangat luas. Di kampung tersebut terdapat satu telaga. Airnya tak pernah habis walau musim berputar dan tahun berganti. Warga kampung tentunya sangat bergantung pada telaga yang menjadi satu-satunya sumber air di kampung tersebut.

Berbagai kisah penduduk kampung dengan telaga tersebut patut kita simak. Dimulailah kisah pertama dari sekelompok orang kampung yang menganggap diri mereka kaum intelektual. Mereka punya pemikiran, bahwa sudah saatnya warga kampung tak perlu lagi bergantung kepada telaga. Mereka mengemukakan gagasan tentang penyulingan air kotor menjadi air yang bisa layak diminum kembali. Ah! air kotor itu, kalau dikaji-kaji kan asal muasalnya tetap saja dari telaga.

Namun teori ini pun ternyata diterima sebahagian warga kampung. Alasannya, karena teori mereka ini terkesan elit dan intelek. Lihat saja, presentasinya mengetengahkan model air kemasan di galon-galon bermerek, lengkap dengan takaran komposisinya. 

Selanjutnya, mereka ini secara tegas menyatakan tidak lagi memerlukan adanya telaga di kampung itu. Walaupun pada kesudahannya, orang-orang ini tetap saja kembali ke telaga. Apa susahnya bagi mereka yang tinggal datang dan menimba air, mereka sudah bisa merasakan kesegaran air telaganya. Tidak perlu riset, kajian bertahun-tahun menjalani try and error. Jelas, air telaga lebih praktis!

Kemudian, ada pula kisah sekelompok warga kampung yang ingin melabeli telaga tersebut sebagai telaga milik kaumnya. Yang bisa mengambil air hanya dari kelompoknya saja. Akhirnya, kelompok di luar mereka tentu menjadi segan jika ingin mengambil air dari telaga itu.

Akhirnya dibuatlah satu kesepakatan, bahwa telaga adalah milik bersama. Tidak boleh dikuasai satu pihak. Jangan dilabeli dia dengan merek apapun. Barulah, fungsi telaga bisa kembali dirasakan oleh seluruh penduduk kampung.

Kemudian, ada pula kisah sekelompok orang-orang ningrat di kampung itu. Walaupun mereka yang butuh air, tapi inginnya mereka, telaga itu yang datang ke rumah mereka. Hehee, ini tentu saja mustahil. Bagaimana mungkin mengangkut telaga sebesar itu untuk bisa dipetantang-petenteng kesana-kemari. Maka diberilah tulisan di plang telaga tersebut dengan bahasa Arab. العلم يؤتى ولا يأتي

Pada akhirnya, kondisi telaga tersebut akan terlihat dari bagaimana warga kampung merawatnya. Bagi warga kampung yang merasakan betapa penting dan vitalnya keberadaan telaga, maka mereka merawat tepian telaga sebaik-baiknya. Sehingga mereka pun kondusif dan nyaman ketika mengambil airnya. 

Namun ada juga masyarakat yang tak ambil pusing. Tepian telaga mereka pun dipenuhi semak tak terawat. Akhirnya mereka jua yang susah ketika butuh air dari telaga. Bahkan katanya sampai ada kasus. Saking tingginya semak di tepian telaga itu, maka bersaranglah ular sehingga beberapa orang diantara mereka menjadi korban dipatok ular.

Oh ya, satu lagi! Dari seluruh kisah telaga ini, ternyata ada kisah yang paling mengerikan. Itulah kisah sekelompok orang dengan kedengkiannya yang ingin menaburkan racun ke dalam telaga. Ironisnya, warga kampung malah acuh tak acuh saja. "Sudahlah, kita tak usah ikut-ikut. Ini bukan urusan kita," pikir mereka.

Jika orang-orang jahat ini berhasil meracuni telaga, kira-kira apakah masih bisa penduduk kampung tersebut meminum airnya? Bagaimanakah nasib kampung itu jika tanpa kehadiran sumber air dari telaga itu?

Untuk kita ketahui. Telaga itu adalah ulama. Air telaga itu adalah ilmu. Dan penduduk kampung itu adalah kita.

Bonai, 6/6/2023

Share:

Part 2: Orang Tua Visioner

Oleh; H. Hannan Putra, Lc, MA*

Kebiasaan guru di sekolah TAUD kami selalu bertanya dan berdiskusi dengan wali murid. Ya, seputar perkembangan hafalan Qur'an siswa di rumah. "Bagaimana muraja'ah Surat itu dan itu, Bunda?" "Apakah ada kendala dalam muraja'ah di rumah?". Dan seterusnya..

Ada jawaban khas dari wali murid yang sering kami dapati. "Alhamdulillah, zah. Anak kami sudah hafal surat ini dan itu. Untuk anak seusianya, itu aja udah hebat tu, zah," jawab si wali murid.

Memang luar biasa bagi masyarakat kita, ketika melihat anak yang baru berusia 5 tahun sudah hafal juz 29 dan 30. Tidak salah juga apa yang diucapkan si wali murid. Mengingat anak-anak seusianya masih sibuk main dan hanya hafal nyanyian yang diajarkan di sekolahnya.

Ini juga yang diilustrasikan Al-Qur'an, bahwa pendidikan itu ibarat bercocok tanam. Suatu saat, orang yang bercocok tanam tersebut akan sampai pada fase يعجب الزراع "mencengangkan petani yang menanamnya" (QS al-Fath:29) saking hebat dan dahsyatnya apa yang telah ditanamnya itu.

Namun kami khawatir, jika ucapan tersebut dijadikan simbol kepuasan wali murid untuk berhenti berjuang. Kepuasan ini dijadikan alasan agar tak lagi melanjutkan hafalan Qur'an anak-anaknya ke level selanjutnya.

"Kan udah hebat tu untuk anak seusianya. Jadi jangan terlalu dipaksa. Masa anak-anak adalah masanya bermain, kan?"

Kami sampaikan, ucapan ini benar tapi tidak pada tempatnya. Marilah kita simak kisah Hindun bintu 'Uqbah ketika dipuji oleh masyarakatnya, "anakmu ini kelak akan menjadi pemimpin kaumnya!"

Apa yang dalam fikiran orang tua ketika anaknya dielu-elukan orang akan menjadi pemimpin dalam kaumnya? Bagi kita, mungkin ini menjadi kebahagiaan dan kebanggaan.

Namun apa yang dirasakan Hindun ternyata tidak sama sekali. Ia malah marah dan berkata, "Celaka anakku! Jika dia hanya bisa menjadi pemimpin di kaumnya saja. Karena dia dipersiapkan untuk memimpin bumi."

Inilah visi seorang shahabiyah di zaman Nabi. Beginilah seorang ibu di zaman itu memprogram anaknya. Karena visi besar seorang ibu, anaknya, Mu'awiyah bin Abu Sufyan, benar-benar menjadi pemimpin hebat di masanya. Ialah Khalifah pertama dari Dinasti Bani Umayyah yang memimpin dengan kebijaksanaannya selama lebih dari 20 tahun.

Lihatlah bagaimana pujian-pujian para sahabat kepadanya. "Saya tidak melihat orang setelah Rasulullah SAW yang lebih pandai memimpin dari Mu'awiyah," ucap Ibnu Umar RA. "Saya tidak melihat seorang yang lebih arif tentang kenegaraan (setelah Rasulullah SAW) daripada Mu'awiyyah," puji Ibnu Abbas RA.

Jadi, anak yang hebat itu dilahirkan oleh ibu yang hebat pula. Duhai ibu, janganlah bercita-cita yang sederhana untuk anak kita. Apakah kita hanya menginginkan masa depan yang sederhana untuk anak kita?

Demikian juga dalam menghafal Al-Qur'an, cita-cita kita haruslah yang tertinggi. Bukan untuk hafal 1-2 juz saja, melainkan 30 juz. Ya! 30 juz harus hafal sebelum dia baligh.

Apakah menargetkan hafizh Qur'an sebelum baligh ini akan menjadikan anak kita stres? Kan sekarang banyak kajian, bahwa terlalu dini memasukkan anak ke sekolah justru akan menjadikannya stres dan kesusahan dalam mengikuti pelajaran.

Jawabannya, khusus untuk menghafal Al-Qur'an, sama sekali tidak akan menyusahkan atau membuat anak kita stres. Bahkan, tasmi' dan talqin al-Qur'an sudah bisa diberikan semenjak anak masih dalam kandungan ibunya. ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى "Tidaklah Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an ini untuk membuatmu susah." (QS Thahaa:2).

Justru di usia sebelum baligh inilah, masa-masa emas seseorang untuk menghafal Al-Qur'an. Mari kita cermati hadist Nabi SAW berikut ini,

من حفظ القرآن وهو فتي السن خلطه الله بلحمه ودمه

Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, "Siapa yang sudah hafal Al-Qur'an padahal usianya masih belia, maka Allah SWT akan mencampurkan (Al-Qur'an itu) dengan darah dan dagingnya." (HR Baihaqi, sahih).

Ini yang kita sebut Al-Qur'an sudah mendarah daging. Insya Allah tidak terpisahkan lagi dengan dirinya. Inilah pentingnya, mengapa kita harus menjadikan mereka hafal Qur'an 30 juz sebelum baligh.

Apakah ini target berlebihan? Oh, tentu tidak. Ribuan tahun silam kurikulum tahfizh ini disusun untuk mencetak para huffazh 30 juz, dan sudah dijalankan orang di seluruh dunia. Mungkin kita saja yang baru tahu.

___________

*Pembina Sekolah Semut-Semut Payakumbuh, Wakil Pimpinan Pesantren ICBS Payakumbuh, Ketua MUI Payakumbuh Selatan, Direktur Pusat Riset dan Kajian Islam Al-Azhar Centre Sumatera Barat


Share:

Standarisasi Buta Huruf dalam Pendidikan Islam

Oleh; H. Hannan Putra, Lc, MA

Pembina Sekolah Komunitas Semut-Semut Payakumbuh, Wakil Pimpinan Pesantren ICBS Payakumbuh, Ketua MUI Payakumbuh Selatan, Peneliti dan Pengamat Pendidikan Islam


Firman Allah SWT,

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

"Dan diantara mereka itu ummi (buta huruf) tidak mengetahui kitab suci kecuali amaniy. dan sesungguhnya mereka (hanyalah) menduga-duga." (QS al-Baqarah: 78).

Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita bagaimana defenisi buta huruf yang dimaksudkan dalam Al-Qur'an. Yakni,  لَا يَعْلَمُونَ (tidak mengetahui ilmunya) kecuali hanyalah sebatas "amaniy".

Tentu kita menyimak dulu bagaimana para ulama kita mendefenisikan "amaniy" tersebut. Salah satunya, sebagaimana diterangkan Imam al-Baghawi dalam tafsirnya Ma'alim at-Tanzil.

قَرَأَ أَبُو جَعْفَرٍ: «أَمَانِيَ»، بِتَخْفِيفِ الْيَاءِ، كُلَّ الْقُرْآنِ، حَذَفَ إِحْدَى الْيَاءَيْنِ تَخْفِيفًا، وقراءة العامّة بالتشديد، وهو جمع: أمنية وهي التلاوة، وقال اللَّهُ تَعَالَى: ﴿ إِلَّا إِذا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ ﴾ [الْحَجِّ: 52]، أَيْ: فِي قِرَاءَتِهِ، قَالَ أَبُو عبيدة: إلا تلاوة وقراءة عن ظهر القلب لا يقرؤونه مِنْ كِتَابٍ، وَقِيلَ: يَعْلَمُونَهُ حِفْظًا وقراءة

Abu Ja'far mengatakan, "Amaniy", dengan harakat dan cara membacanya (mematikan huruf "ya", dihilangkan salah satu huruf "ya", dibaca secara umum dengan tasydid) adalah jamak dari amaniyah yang berarti "bacaan". Sebagaimana firman Allah SWT, "Tidaklah ketika mereka mengangankan sesuatu, syaitan akan membisikkan kepada amaniyah mereka." (QS al-Hajj: 52). Maksud amaniyah dalam ayat ini adalah bacaaan.

Abu Ubaidah menambahkan, (tafsir إِلَّا أَمَانِيَّ) adalah "kecuali sebatas tilawah dan bacaan yang tidak menjiwai. Mereka tidak membacanya dari kitab suci. Dikatakan pula, mereka hanya mengetahui sebatas hafalan dan mampu membaca saja. [Ma'alim at-Tanzil, Imam Baghawi: 1/114-115].

Jika "amaniy" diartikan para ulama kita dengan kemampuan membaca bahkan hafalan, betapa tingginya standarisasi buta huruf dalam Islam. Bahkan, seorang yang sudah mampu membaca Al-Qur'an bahkan sudah hafal sekalipun, masih belum keluar dari golongan buta huruf.

Mari sekali lagi kita artikan QS al-Baqarah ayat 78, "Dan diantara mereka itu buta huruf, tidak mengetahui kitab suci kecuali amaniy (sekedar mampu membaca dan menghafal saja). Dan sesungguhnya mereka (hanyalah) menduga-duga."

Betapa jauhnya kita dari apa yang ditargetkan Al-Qur'an. Bahkan kemampuan membaca Al-Qur'an saja, masih banyak masyarakat kita yang belum bisa. Padahal banyak diantaranya yang sudah mencapai usia lansia. Namun belum juga mampu mengucapkan huruf-huruf hija'iyyah dengan benar. 

Apalah lagi menaikkan standar buta huruf ke level hafal. Padahal menurut Para Mufassir, yang sudah hafal Al-Qur'an 30 juz sekalipun, masih tergolong buta huruf jika belum memahami tafsir dari ayat-ayat yang mereka hafal.

Sekali lagi, betapa jauhnya standar pendidikan kita hari ini dari apa yang diberikan Al-Qur'an. Jika demikian, sudah berapa banyak sekolah, pesantren, bahkan perguruan tinggi yang sudah mengeluarkan orang dari buta huruf menurut standar Al-Qur'an?

Sejauh ini pesantren-pesantren kita yang diklaim sebagai sekolah Al-Qur'an, ternyata belum mampu menjamin tamatannya hafal Al-Qur'an 30 juz. Bahkan untuk keluar dari batas buta huruf saja, masih hal sangat berat untuk model pendidikan kita saat ini. Lalu dengan "pe-de" nya kita berangan-angan bahwa Islam akan bangkit dan jaya di tangan kita?

Share:

Part 1: Kurikulum Khatam Menghafal Al-Qur'an Sebelum Baligh

Oleh; H. Hannan Putra, Lc, MA,

Allah SWT berfirman,

وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا الۡقُرۡاٰنَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِنۡ مُّدَّكِرٍ

"Dan sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur'an sebagai zikir (peringatan). Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS al-Qamar: 17).

Ayat ini diulang sebanyak empat kali dalam Surat al-Qamar, sebagai taukid (penegasan) bahwa dijamin kemudahan dalam mempelajari dan menghafalnya. Bahkan, Allah SWT menantang kita untuk membuktikan janji Allah SWT tersebut. Adakah yang mau mencoba dan membuktikan kemudahannya?

Dari ayat ini kita yakin, tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang tidak mampu menghafal Al-Qur'an. Jadi, tidak ada istilah dalam kamus sekolah kita, "anak ini bisa menghafal Al-Qur'an dan anak yang ini tidak." 

Di sekolah kita khususnya, kita hanya mengklasifikasi kemampuan siswa berasarkan ketekunan dalam murajaah. Ada siswa yang 5 kali murajaah sudah hafal. Namun ada yang 10 kali, atau bahkan 20 kali baru bisa hafal. Pada akhirnya, semua siswa akan hafal. Hanya saja masing-masing siswa berbeda-beda dalam jumlah repetisi murajaah untuk bisa sampai hafal.

Inilah yang perlu kita fahami sebagai orang tua/ wali murid. Kurikulum yang saat ini dijalani sekolah kita telah dirancang agar siswa bisa khatam dalam menghafal Al-Quran di usia 10-12 tahun. Dan kurikulum inilah yang mayoritas juga diikuti oleh seluruh anak-anak penghafal Al-Qur'an di seluruh dunia.

Kurikulum yang dijalankan ini tidak bisa menunggu anak-anak yang tertinggal. Kurikulum ini menargetkan bahwa siswa harus selesai 30 juz sebelum usia baligh (10-12 tahun). Target ini dirancang para ulama dengan beberapa pertimbangan, diantaranya;

1. Jika siswa sudah menginjak usia 10-12 tahun (usia baligh) maka kemampuan otaknya untuk menghafal sudah mulai menurun. Setelah baligh, kemampuan otak tidak bisa lagi diilustrasikan sebagai "kertas putih".

2. Karena kemampuan otak sudah mulai menurun, bahkan anak sudah memiliki "beban" fikiran, makan akan memakan waktu lebih lama dari anak-anak yang menghafal di usia sebelum baligh. 

3. Kualitas hafalan Al-Qur'an mereka biasanya lebih buruk dari hafalan Al-Qur'an anak-anak sebelum baligh. Inilah yang dijaminkan oleh Nabi SAW,

من تعلم القرآن و هو فتي السن خلطه الله بلحمه ودمه

"Siapa yang mempelajari Al-Qur'an di usia belia, maka Allah akan mencampurkan Al-Qur'an tersebut dengan darah dan dagingnya." (At-Taariikhul Kabiir: iii /94).

Kita menyebutnya "Al-Qur'an telah mendarah daging". Dan inilah rahasianya, mengapa kita mentargetkan anak-anak kita harus hafidz 30 juz sebelum mereka baligh.

Lalu bagaimana jika anak kita ketinggalan atau belum lancar hafalannya? Mari kita kembali lagi ke rumus awal tadi. Tidak ada anak yang tidak mampu menghafal. Hanya saja repetisi muraja'ahnya kurang. Misalnya, kemampuan anak kita untuk sampai hafal adalah 10 kali pengulangan. Sementara kita hanya memberikannya 5 kali pengulangan.

Bagaimana kita mengetahui berapa jumlah repetisi untuk mengulang hafalan anak kita? Tidak ada yang tahu pasti jumlahnya sampai kita mencobanya. Mari kita lebih sabar mengulang dan terus mengulang. Hingga suatu saat hafalannya lancar, dan barulah ketemu angkanya. Mungkin bisa saja lancarnya baru di angka ke-15 atau ke-20, Wallahu'alam.

Inilah salah satu rahasia, mengapa ayat yang menjamin kemudahan menghafal Al-Qur'an diulang-ulang Allah dalam Surat al-Qamar. Mengajarkan kepada kita, bahwa salah satu cara mendapatkan kemudahan menghafal adalah dengan memperbanyak mengulang/ muraja'ah. Wallahu'alam.

_________________

*Pembina Sekolah Semut-Semut Payakumbuh, Ketua MUI Payakumbuh Selatan, Pendiri/ Wakil Pimpinan Pesantren ICBS Payakumbuh, Direktur Pusat Riset dan Kajian Islam Al-Azhar Centre Sumatera Barat

Share:

Mungkinkah Menyelesaikan Hafalan Al-Qur'an di Usia SD?

Oleh; H. Hannan Putra, Lc, MA

Pembina Sekolah Semut-Semut Payakumbuh, Wakil Pimpinan ICBS Payakumbuh

Sebagaimana tradisi anak-anak para Salafus Shaleh, anak-anak mereka kebanyakan hafal Al-Qur'an di rentang usia 7-10 tahun. Hal ini masih menjadi tradisi di Timur Tengah hingga hari ini. Di Mesir sendiri, untuk tamat SD di Al-Azhar harus selesai hafalan Al-Qur'an 30 juz.

Setiap bulan Ramadhan di negara seribu menara itu selalu diadakan Musabaqah Hifzul Qur'an (MHQ). Menariknya, peserta MHQ tersebut diikuti oleh anak-anak SD. Menjadi suatu kebanggaan bagi para orang tua ketika anaknya ikut dalam moment yang ditunggu-tunggu itu. Bahkan, jika anaknya tidak ikut maka si orang tua akan malu.

“Itu kan orang Arab, bagaimana dengan orang Indonesia?”

Pertanyaan ini sering ditanyakan para orang tua. Apakah mungkin anak-anak mereka di usia SD bisa hafal Al-Qur'an? Padahal anak-anak mereka bahkan belum bisa membaca Al-Quran.

Allah SWT menjamin kemudahan dalam menghafal Al-Qur'an sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Qamar ayat 17;

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

"Dan sesungguhnya Kami telah memudahkan Al-Quran untuk dipelajari. Maka adakah orang yang mengambil pelajaran?"

Ayat ini terus di ulang sebanyak empat kali dalam surat ini. Hal ini sebagai penegasan bahwa kemudahan Al-Quran untuk dipelajari (dihafal) benar-benar dijamin oleh Sang Khaliq. Ini yang harus kita yakini, bahwa Allah menjamin kemudahan menghafal Al-Quran baik untuk orang Arab dan 'Ajm (non-Arab). Allah akan membantu orang yang ikhlas dan sunguh-sungguh menghafal kitab-Nya.

Lantas bagaimana langkah untuk mewujudkan agar selesai hafalan Al-Qur'an tersebut di usia SD?

1. Niat yang ikhlas.

Niat menjadi unsur terpenting dalam memulai hafalan Al-Quran. Bahwa niat menghafal Al-Quran semata-mata mencari ridha Allah SWT. Hanya berujung murka dan laknat Allah jika menuntut ilmu diniatkan untuk mendapatkan dunia. Sebagaimana Sabda Nabi SAW,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Siapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya bertujuan untuk mendapatkan wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia. Maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat." (HR. Abu Daud no.3664, Ibnu Majah no.252, dan Ahmad 2/338).

2. Tekat yang kuat dengan keterlibatan seluruh pihak.

Keterlibatan seluruh pihak mulai dari si anak, ayah dan ibu, guru di sekolah, hingga lingkungan tempat anak-anak berinteraksi haruslah kondusif dan seluruhnya mendukung tercapainya target tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an,

فَأَرَدْنَآ أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَوٰةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

"Dan kita menginginkan supaya Tuhan mereka memberikan ganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu, dan lebih dalam kasih sayangnya." (QS. al-Kahfi: 81).

Ayat ini memakai dhamir (kata ganti) "نَآ (kami)" sebagai bentuk keterlibatan seluruh elemen dalam mewujudkan anak yang sukses. Menyerahkan seluruh urusan pendidikan kepada pihak sekolah tentu bukanlah langkah yang bijak, sementara anak diamanahkan Allah kepada orang tuanya.

Demikian juga peran orang tua yang mungkin kurang ilmu, perlu mencari guru yang tepat untuk mendidik anaknya. Karena dalam menghafal Al-Quran wajib untuk berguru. Sinergitas sekolah dan rumah perlu terjalin baik. Kolaborasi guru dan orang tua dalam mendidik yang akan menghantarkan keberhasilan anak dalam menghafal Al-Quran. Di sekolah anak ditalqin, di rumah dilakukan sima'ah. Di sekolah muraja'ah, di rumah juga.

3. Kurikulum yang benar.

Al-Quran sebagai induk dan sumber dari seluruh ilmu punya karakter tersendiri dalam menghafalnya. Bahwa menghafal Al-Quran tidak bisa dinomorduakan. Inilah kesalahan kebanyakan sekolah yang menjadikan pelajaran menghafal Al-Qur'an sebagai eks-skul atau pelajaran tambahan. Ingat, Al-Quran tidak mau dinomorduakan!

Jika sebuah sekolah benar-benar menginginkan muridnya menyelesaikan hafalan Al-Quran, maka sekolah tersebut menjadikan porsi menghafal Al-Quran sebagai hal utama. Seluruh pelajaran selain Al-Quran menjadi sampingan. Maka Insya Allah, ketika Al-Qur'an dinomorsatukan dan menjadi prioritas utama, maka akan dibantu Allah SWT dalam menyelesaikan hafalannya.

SDQ Semut-Semut Payakumbuh memilih fokus utama untuk mengkhatamkan Al-Quran. Itulah alasannya tidak bisa lagi mengadopsi kurikulum yang disediakan oleh Dinas Pendidikan. Para orang tua diminta memilih, kurikulum apa yang akan dijadikan sebagai acuan Pendidikan bagi anaknya. Apakah ingin menghafal Al-Quran atau kurikulum yang ada.

Ibarat seorang petani yang akan menanam satu tanaman. Dia harus memilih, jenis tanaman apa yang akan ditanam. Karena tidak ada satu tanaman yang bisa berbuah pisang, mangga, durian, dan sebagainya. Jadi, ketika sudah memilih kurikulum menghafal Al-Quran, tidak akan maksimal lagi jika memakai kurikulum Dinas Pendidikan atau kemerintrian Agama.

Lantas bagaimana dengan ijazah? Insya Allah anak yang sudah hafal Al-Quran sanggup dengan bisa dengan mudah menyerap ilmu lain. Ia sudah terbiasa menghafal, maka ia dengam mudah bisa menghafal materi-materi pelajaran. Maka bagi para orang tua yang tetap menginginkan anaknya berijazah, akan dikhususkan waktu mengejar ketertinggalan pelajaran di kelas 6 untuk bisa ujian Paket A. Jadi polanya dibalik. Al-Qur'an yang utama, yang lain menjadi sampingan.

Jadi, manakah yang kita pilih? Wallahu'alam, kami di SDQ Semut-Semut berkeyakinan. Tidak akan ada sekolah SMP manapun yang mau menolak anak yang hafal Al-Quran 30 juz, walau hanya membawa ijazah paket A. Itu alasannya, mengapa anak-anak kita harus hafal Al-Quran di usia SD.

4. Kalkulasi menghafal dengan ketersediaan waktu.

Sebenarnya dengan kalkulasi standar saja, anak sudah bisa hafal Al-Quran ketika tamat kelas 4 SD. Kalkulasi kasarnya sebagai berikut;

- 1 tahun = 365 hari.

- 1 tahun pelajaran = 300 hari (Dikurangi 52 hari Ahad dan 12 Hari libur nasional dalam setahun).

- Setiap anak menghafal Al-Quran setengah halaman setiap hari.

- Kelas 1 - 4 = 4 tahun

- 4 tahun x 300 hari belajar = 1.200 hari belajar.

- Jumlah halaman dalam mushaf Al-Quran 604 dibulatkan menjadi 600 halaman.[1]

- Jika setiap hari menghafal setengah halaman, berarti 600 x 2 = 1.200 Hari belajar.

- 1.200 Hari belajar -> 4 tahun.

Catatan

1. Tentu saja ini hanya hitungan kasar. Target setengah halaman sehari bagi siswa adalah target terendah. Karena untuk level TAUD saja (usia 4 - 5,5 tahun) siswa TAUD Semut-Semut payakumbuh bisa menghafal 3/4 halaman sehari.

22. Kekuatan menghafal semakin hari akan semakin bertambah. Berdasarkan pengalaman kami, anak yang sudah hafal 2 juz akan semakin mudah menghafal. Demikian juga ketika sudah memiliki hafalan 10, 15, 20, dan seterusnya. Target berkali-kali lipat bisa diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

33. Kalaupun anak tidak selesai dalam empat tahun, masih ada waktu dua tahun lagi untuk muraja'ah dan pemantapan. Intinya, ketersediaan waktu sangat melimpah untuk menyelesaikan hafalan Al-Quran.

4. Di kelas empat, anak-anak diberikan kesempatan untuk saling berpacu menyelesaikan hafalan Al-Quran. Ibarat lomba lari, kelas 4 merupakan lap terakhir yang masing-masing peserta akan saling berpacu. Menghafal Al-Quran juga ibarat perlombaan (fastabiqul khairat), jadi hafalan anak-anak di kelas ini akan sangat bervariasi.

Bagaimana ayah bunda? Sudah siap menjadikan anak khatam hafalan Al-Quran di usia SD?



[1] Satu halaman surat Al-Fatihah pasti sudah hafal. Kemudian 3 halaman belakang yang merupakan ayat pendek juga umumnya sudah hafal. 604 halaman bisa dikerucutkan menjadi 600 halaman.

Share:

Kemana Arah Kurikulum Kita?

 

Oleh; H. Hannan Putra, Lc, MA

Ketua MUI Payakumbuh Selatan, Pembina Sekolah Semut-Semut Payakumbuh

Konsep tabayyun yang diajarkan Islam mendidik umatnya agar terbiasa menerima informasi yang otentik. Perlu ada proses klarifikasi dan faktualisasi untuk menguji keabsahan suatu informasi yang diterima[1]. Tidak hanya itu, orang si pemberi informasi pun perlu diteliti. Apakah dia tsiqqah (dapat dipercaya). Dalam tradisi thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu), proses ini klarifikasi ini dirangkum dalam ilmu Al-Jarh wa At Ta’dil.

Itu baru etika dalam menerima suatu informasi, lebih-lebih lagi dalam menerima suatu ilmu. Seorang thalib (pelajar) harus memperhatikan dari siapa ia mengambil ilmu[2]. Hanya orang yang tsiqqah saja yang dapat diambil ilmunya. Betapa Imam Bukhari sangat selektif dalam menerima hadist. Seorang yang ia dapati sedang mempermainkan binatang, langsung divonis Sang Imam bahwa hadistnya dha’if (lemah). Beliau mengajarkan kita, bahwa mengambil ilmu dari orang yang tidak tsiqqah berakibat dha’ifnya ilmu yang diterima.

Sedemikian tingginya sertifikasi seorang guru, yakni orang yang memberi ilmu. Lebih-lebih lagi para pembuat kurikulum yang ilmunya menjadi rujukan dan acuan dari seluruh guru. Harusnya, orang-orang di level ini adalah orang yang paling ‘alim dan pakar dengan dunia pendidikan. Dalam hal ini tentu pihak yang paling bertanggungjawab itu adalah Mentri Pendidikan bersama dengan orang-orang yang meracik kurikulum di tingkat nasional.

Namun inilah sayangnya. Dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ternyata menghilangkan frasa agama[3]. Secara konstitusi saja, ini sudah bertentangan dengan Pasal 31 UUD 1945. Bukankah pedoman wajib Peta Jalan Pendidikan Nasional adalah ayat 5 Pasal 31 UUD 1945?. Ingatkah poin pertama Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 Sikdisnas menjelaskan secara eksplisit bahwa agama menjadi unsur integral di dalam pendidikan nasional?

Tidak hanya pelanggaran secara konstitusional, menghilangkan frasa agama berarti mengkhianati amanat Pendidikan nasional yang diberikan para founding father bangsa kita. Apakah sebenarnya yang terjadi di tingkat nasional? Mengapa penyusunan Peta Jalan Pendidikan ini disusun secara sembunyi-sembunyi tanpa melibatkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Kemendikbud dan juga partisipasi publik?

Banyak sekali persoalan besar di dunia pendidikan yang dianggap kecil. Sebaliknya, persoalan kecil justru dibesar-besarkan. Soal satu kasus di SMK N 2 Padang yang berujung keluarnya SKB 3 Menteri yang bak menembak lalat dengan Meriam. Kasus sangat kecil ini harusnya selesai ditingkat waka kesiswaan atau paling tinggi tingkat kepala sekolah. Mengapa harus tiga orang menteri pula yang mengurusinya?

Padahal, banyak sekali kasus besar tingkat nasional yang diabaikan. Sadarkah kita, sekolahan sudah setahun diliburkan? Lantas bagaimana efek kerusakan moral dari belajar daring melalui smartphone? Bagaimana penanganannya? Bagaimana peningkatan kualitas guru dan tenaga kependidikan? Kaum guru terus saja disibukkan dengan persoalan administrasi RPP, silabus, laporan ini itu. Kami heran, ke mana arah pendidikan kita hari ini?

Kami berfikir, jika kerusakan ini dibiarkan, maka dha’iflah ilmu dan ijazah yang dikeluarkan oleh institusi pendidikan. Sudah saatnya para alim-ulama dan pakar pendidikan Islam mengambil tanggungjawab besar ini. Mereka harus berbuat sesuatu untuk melahirkan kurikulum yang mengacu pada kerangka pendidikan para Salafus Shaleh. Untuk menyelamatkan generasi kita di masa depan.



[1] QS. Al-Hujurat ayat 6

[2] Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahîh Muslim, 1/43-44 – Syarhu Shahîh Muslim.

[3] https://www.republika.co.id/berita/qpjb5f396/haedar-nashir-kritik-peta-jalan-pendidikan-nasional

Share:

Masyarakat Bisa Cerdas Tanggapi Informasi Hoax

PAYAKUMBUH-- Sebelum gencarnya upaya berbagai kalangan dalam menangkal informasi palsu/ hoax di media sosial, Islam adalah agama yang sudah terlebih dahulu mengajarkan umatnya untuk berhati-hati dalam menerima informasi. Konsep tabayyun (klarifikasi) ini diterangkan dalam Al-Quran Surat al-Hujurat [49] ayat 6.

"Agama kita menekankan betul pentingnya menjaga keabsahan satu informasi. Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang sampai kepada kita melalui kodifikasi dan otentifikasi yang sangat ketat. Sehingga kita mengenal ada hadis yang diwayatnya sahih, hasan, dan dha'if. Orang yang secara sengaja mengada-ada hadis Nabi SAW itu diancam langsung oleh Beliau SAW untuk menyediakan tempat duduknya di neraka," papar Ketua MUI Kec Payakumbuh Selatan, Ustadz H Hannan Putra Lc MA dalam keterangan persnya kepada wartawan, Senin (25/5/2020).

Pernyataan beliau tersebut muncul seiring viralnya semacam seruan di Media Sosial yang mengatasnamakan MUI Pusat. Dalam seruan tersebut menghimbau MUI Provinsi, Kota, Kabupaten, dan masyarakat agar siaga karena akan diadakan Rapid Test Covid-19 terhadap Ulama di seluruh Indonesia. Tujuannya dari misi ini untuk menyuntikkan virus ke ulama-ulama tersebut sebagai misi kejahatan dari PKI.

"Kita mengantisipasi jika ada kemunculan PKI di wilayah NKRI sebagaimana amanah dari TAP MPRS No.15 Tahun 1966. Kita juga menyeru agar tetap menjaga para ulama kita dari hal-hal yang membahayakan. Tapi informasi yang hoax seperti ini tetap kita sebut hoax," papar beliau.

"Mari kita cerdas dalam menanggapi satu informasi. Lihat konten suratnya. MUI setingkat Kota/ Kabupaten saja, jika mengeluarkan maklumat pasti memakai stempel resmi, bertanda tangan, dan punya nomor surat administratifnya. Apalagi ini surat yang konon katanya dari MUI Pusat. Naifnya, masyarakat percaya pula dengan yang seperti ini?" tambah beliau.

Beliau menyayangkan karena latahnya masyarakat dalam meyakini informasi, sehingga MUI Pusat pun terpaksa turut memberikan keterangan resmi sebagai bantahan hoax tersebut. Menurutnya, jika masyarakat bisa cerdas dalam menerima informasi, konsentrasi para ulama yang sedang membahas persoalan umat tak perlu sampai terusik. "Anda pengguna smartphone juga harus smart. Jangan sampai kelatahan di medsos menggiring masuk neraka," pungkas beliau.

Share:

Jadikan Peringatan Hari Besar Islam Sebagai Moment Merekat Persatuan Umat

PAYAKUMBUH- Silang pendapat tentang boleh tidaknya peringatan maulid Nabi SAW kembali hangat dibicarakan di masyarakat. Sebahagian berpendapat, hal ini adalah bid'ah atau perkara mengada-ada yang tidak pernah dibuat oleh orang-orang terdahulu. Namun sebahagian masyarakat malah menjadikan peringatan Maulid Nabi SAW sebagai agenda tahunan yang ditunggu-tunggu. Biasanya diadakan wirid pengajian untuk mengupas perjalanan hidup Nabi SAW.

Ketua MUI Payakumbuh Selatan, Ustadz H Hannan Putra Lc MA memesankan, jangan sampai perbedaan pendapat tersebut merusak ukhuwah Islamiyah antar umat Islam. "Intinya jangan saling menyalahkan. Mari kita belajar untuk menghormati pendapat orang lain yang berbeda dengan kita. Bagi yang tidak memperingati maulid Nabi, silahkan. Namun jangan pula menyalahkan orang yang memperingatinya. Begitu juga sebaliknya," papar beliau ketika berdiskusi bersama OPD dan unsur pimpinan di lingkungan Kantor Balai Kota Payakumbuh, Kamis (5/11/2020). Kedatangan beliau dalam rangka mengisi acara Peringatan Maulid Nabi SAW.

Sang Ustadz yang merupakan pimpinan Pesantren ICBS Payakumbuh tersebut juga memesankan, bahwa agenda besar umat Islam saat ini yakni bagaimana merajut persatuan umat. Jangan sampai isu-isu khilafiyah menjadi duri yang melukai satu sama lain sehingga memecah-belah umat Islam.

Beliau mengutip nasehat salah seorang ulama besar bergelar Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidha Ila Shiratul Mustaqim,

فتعظيم المولد واتخاذه موسما قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعيظمه لرسول الله صلى الله عليه وآله وسلم

"Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara tahunan, hal ini sungguh dilakukan oleh sebagian orang. Mereka pun bisa mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW." (Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim, 2/123-124).

"Lihat bagaimana indahnya toleransi yang diperlihatkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau dan murid-muridnya tidak memperingati maulid. Tetapi beliau menghormati orang-orang yang melakukannya. Mental itulah yang kita butuhkan saat ini," tambah beliau.

Ustadz Hannan juga menekankan, peringatan maulid Nabi SAW yang dilakukan di Indonesia hanyalah berupa tabligh akbar, pengajian, dan ceramah agama. "Tidak ada seremonial apapun, hanya berupa ceramah agama saja. Jadi berbesar hatilah, masa ceramah juga dilarang," pungkas beliau.

Berita : https://www.impiannews.com/2020/11/peringatan-maulid-nabi-saw-sebagai.html

Share:

PEMBINA

PEMBINA

VIDEO TESTIMONI TOKOH

Temukan di Facebook