Hafal Al-Quran di Usia Belia

Breaking News

  • Kunjungan Gubernur Sumbar ke Sekolah Semut-Semut

    Kunjungan Gubernur Sumatera Barat terpilih, H Mahyeldi Ansharullah ke Sekolah Komunitas Semut-Semut Payakumbuh, Sabtu (6/2/2021) membicarakan tentang konsep dan kurikulum sekolah Islam.

  • Menjadikan Balita Hafal 1 Juz dalam 4 Bulan

    Tahfidz Anak Usia Dini (TAUD) Sekolah Semut-Semut Payakumbuh membuktikan keberhasilan metode talqin untuk menghafal Al-Quran. Dalam acara haflah Laporan Akhir Semester, Senin (14/12/2020) lalu, para balita ini telah hafal juz 30 hanya dalam 4 bulan.

  • Kunjungan Kakek KH Tengku Zulkarnain ke Sekolah Semut-Semut

    Da'i Nasional yang juga Wasekjen MUI Pusat, KH Tengku Zulkarnain bertandang ke kampus Sekolah Semut-Semut Payakumbuh, Ahad (6/9/2020). Kepada wali murid, Dai Nasional tersebut berpesan agar terus membersamai anak-anak mereka menghafal Al-Quran sampai khatam 30 juz.

  • Mantan Rocker Derry Sulaiman Konser di Depan Murid Semut-Semut

    Da'i yang juga mantan rocker Ustadz Derry Sulaiman menyempatkan untuk hadir di Sekolah Semut-Semut Payakumbuh Ahad (18/10/2020). Di hadapan wali murid, Ustadz Derry bercerita bahwa ini pengalaman pertamanya 'manggung' dihadapan anak-anak balita.

  • Rihlah Keluarga Besar Sekolah Semut-Semut

    Keunggulan sekolah komunitas dilihat dari kekompakan para wali muridnya. Sebagaimana terlihat dalam rihlah di Obyek Wisata Syari'ah Torang Saribulan, Ahad (27/9/2020).

Part 2: Orang Tua Visioner

Oleh; H. Hannan Putra, Lc, MA*

Kebiasaan guru di sekolah TAUD kami selalu bertanya dan berdiskusi dengan wali murid. Ya, seputar perkembangan hafalan Qur'an siswa di rumah. "Bagaimana muraja'ah Surat itu dan itu, Bunda?" "Apakah ada kendala dalam muraja'ah di rumah?". Dan seterusnya..

Ada jawaban khas dari wali murid yang sering kami dapati. "Alhamdulillah, zah. Anak kami sudah hafal surat ini dan itu. Untuk anak seusianya, itu aja udah hebat tu, zah," jawab si wali murid.

Memang luar biasa bagi masyarakat kita, ketika melihat anak yang baru berusia 5 tahun sudah hafal juz 29 dan 30. Tidak salah juga apa yang diucapkan si wali murid. Mengingat anak-anak seusianya masih sibuk main dan hanya hafal nyanyian yang diajarkan di sekolahnya.

Ini juga yang diilustrasikan Al-Qur'an, bahwa pendidikan itu ibarat bercocok tanam. Suatu saat, orang yang bercocok tanam tersebut akan sampai pada fase يعجب الزراع "mencengangkan petani yang menanamnya" (QS al-Fath:29) saking hebat dan dahsyatnya apa yang telah ditanamnya itu.

Namun kami khawatir, jika ucapan tersebut dijadikan simbol kepuasan wali murid untuk berhenti berjuang. Kepuasan ini dijadikan alasan agar tak lagi melanjutkan hafalan Qur'an anak-anaknya ke level selanjutnya.

"Kan udah hebat tu untuk anak seusianya. Jadi jangan terlalu dipaksa. Masa anak-anak adalah masanya bermain, kan?"

Kami sampaikan, ucapan ini benar tapi tidak pada tempatnya. Marilah kita simak kisah Hindun bintu 'Uqbah ketika dipuji oleh masyarakatnya, "anakmu ini kelak akan menjadi pemimpin kaumnya!"

Apa yang dalam fikiran orang tua ketika anaknya dielu-elukan orang akan menjadi pemimpin dalam kaumnya? Bagi kita, mungkin ini menjadi kebahagiaan dan kebanggaan.

Namun apa yang dirasakan Hindun ternyata tidak sama sekali. Ia malah marah dan berkata, "Celaka anakku! Jika dia hanya bisa menjadi pemimpin di kaumnya saja. Karena dia dipersiapkan untuk memimpin bumi."

Inilah visi seorang shahabiyah di zaman Nabi. Beginilah seorang ibu di zaman itu memprogram anaknya. Karena visi besar seorang ibu, anaknya, Mu'awiyah bin Abu Sufyan, benar-benar menjadi pemimpin hebat di masanya. Ialah Khalifah pertama dari Dinasti Bani Umayyah yang memimpin dengan kebijaksanaannya selama lebih dari 20 tahun.

Lihatlah bagaimana pujian-pujian para sahabat kepadanya. "Saya tidak melihat orang setelah Rasulullah SAW yang lebih pandai memimpin dari Mu'awiyah," ucap Ibnu Umar RA. "Saya tidak melihat seorang yang lebih arif tentang kenegaraan (setelah Rasulullah SAW) daripada Mu'awiyyah," puji Ibnu Abbas RA.

Jadi, anak yang hebat itu dilahirkan oleh ibu yang hebat pula. Duhai ibu, janganlah bercita-cita yang sederhana untuk anak kita. Apakah kita hanya menginginkan masa depan yang sederhana untuk anak kita?

Demikian juga dalam menghafal Al-Qur'an, cita-cita kita haruslah yang tertinggi. Bukan untuk hafal 1-2 juz saja, melainkan 30 juz. Ya! 30 juz harus hafal sebelum dia baligh.

Apakah menargetkan hafizh Qur'an sebelum baligh ini akan menjadikan anak kita stres? Kan sekarang banyak kajian, bahwa terlalu dini memasukkan anak ke sekolah justru akan menjadikannya stres dan kesusahan dalam mengikuti pelajaran.

Jawabannya, khusus untuk menghafal Al-Qur'an, sama sekali tidak akan menyusahkan atau membuat anak kita stres. Bahkan, tasmi' dan talqin al-Qur'an sudah bisa diberikan semenjak anak masih dalam kandungan ibunya. ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى "Tidaklah Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an ini untuk membuatmu susah." (QS Thahaa:2).

Justru di usia sebelum baligh inilah, masa-masa emas seseorang untuk menghafal Al-Qur'an. Mari kita cermati hadist Nabi SAW berikut ini,

من حفظ القرآن وهو فتي السن خلطه الله بلحمه ودمه

Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, "Siapa yang sudah hafal Al-Qur'an padahal usianya masih belia, maka Allah SWT akan mencampurkan (Al-Qur'an itu) dengan darah dan dagingnya." (HR Baihaqi, sahih).

Ini yang kita sebut Al-Qur'an sudah mendarah daging. Insya Allah tidak terpisahkan lagi dengan dirinya. Inilah pentingnya, mengapa kita harus menjadikan mereka hafal Qur'an 30 juz sebelum baligh.

Apakah ini target berlebihan? Oh, tentu tidak. Ribuan tahun silam kurikulum tahfizh ini disusun untuk mencetak para huffazh 30 juz, dan sudah dijalankan orang di seluruh dunia. Mungkin kita saja yang baru tahu.

___________

*Pembina Sekolah Semut-Semut Payakumbuh, Wakil Pimpinan Pesantren ICBS Payakumbuh, Ketua MUI Payakumbuh Selatan, Direktur Pusat Riset dan Kajian Islam Al-Azhar Centre Sumatera Barat


Share:

Standarisasi Buta Huruf dalam Pendidikan Islam

Oleh; H. Hannan Putra, Lc, MA

Pembina Sekolah Komunitas Semut-Semut Payakumbuh, Wakil Pimpinan Pesantren ICBS Payakumbuh, Ketua MUI Payakumbuh Selatan, Peneliti dan Pengamat Pendidikan Islam


Firman Allah SWT,

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

"Dan diantara mereka itu ummi (buta huruf) tidak mengetahui kitab suci kecuali amaniy. dan sesungguhnya mereka (hanyalah) menduga-duga." (QS al-Baqarah: 78).

Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita bagaimana defenisi buta huruf yang dimaksudkan dalam Al-Qur'an. Yakni,  لَا يَعْلَمُونَ (tidak mengetahui ilmunya) kecuali hanyalah sebatas "amaniy".

Tentu kita menyimak dulu bagaimana para ulama kita mendefenisikan "amaniy" tersebut. Salah satunya, sebagaimana diterangkan Imam al-Baghawi dalam tafsirnya Ma'alim at-Tanzil.

قَرَأَ أَبُو جَعْفَرٍ: «أَمَانِيَ»، بِتَخْفِيفِ الْيَاءِ، كُلَّ الْقُرْآنِ، حَذَفَ إِحْدَى الْيَاءَيْنِ تَخْفِيفًا، وقراءة العامّة بالتشديد، وهو جمع: أمنية وهي التلاوة، وقال اللَّهُ تَعَالَى: ﴿ إِلَّا إِذا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ ﴾ [الْحَجِّ: 52]، أَيْ: فِي قِرَاءَتِهِ، قَالَ أَبُو عبيدة: إلا تلاوة وقراءة عن ظهر القلب لا يقرؤونه مِنْ كِتَابٍ، وَقِيلَ: يَعْلَمُونَهُ حِفْظًا وقراءة

Abu Ja'far mengatakan, "Amaniy", dengan harakat dan cara membacanya (mematikan huruf "ya", dihilangkan salah satu huruf "ya", dibaca secara umum dengan tasydid) adalah jamak dari amaniyah yang berarti "bacaan". Sebagaimana firman Allah SWT, "Tidaklah ketika mereka mengangankan sesuatu, syaitan akan membisikkan kepada amaniyah mereka." (QS al-Hajj: 52). Maksud amaniyah dalam ayat ini adalah bacaaan.

Abu Ubaidah menambahkan, (tafsir إِلَّا أَمَانِيَّ) adalah "kecuali sebatas tilawah dan bacaan yang tidak menjiwai. Mereka tidak membacanya dari kitab suci. Dikatakan pula, mereka hanya mengetahui sebatas hafalan dan mampu membaca saja. [Ma'alim at-Tanzil, Imam Baghawi: 1/114-115].

Jika "amaniy" diartikan para ulama kita dengan kemampuan membaca bahkan hafalan, betapa tingginya standarisasi buta huruf dalam Islam. Bahkan, seorang yang sudah mampu membaca Al-Qur'an bahkan sudah hafal sekalipun, masih belum keluar dari golongan buta huruf.

Mari sekali lagi kita artikan QS al-Baqarah ayat 78, "Dan diantara mereka itu buta huruf, tidak mengetahui kitab suci kecuali amaniy (sekedar mampu membaca dan menghafal saja). Dan sesungguhnya mereka (hanyalah) menduga-duga."

Betapa jauhnya kita dari apa yang ditargetkan Al-Qur'an. Bahkan kemampuan membaca Al-Qur'an saja, masih banyak masyarakat kita yang belum bisa. Padahal banyak diantaranya yang sudah mencapai usia lansia. Namun belum juga mampu mengucapkan huruf-huruf hija'iyyah dengan benar. 

Apalah lagi menaikkan standar buta huruf ke level hafal. Padahal menurut Para Mufassir, yang sudah hafal Al-Qur'an 30 juz sekalipun, masih tergolong buta huruf jika belum memahami tafsir dari ayat-ayat yang mereka hafal.

Sekali lagi, betapa jauhnya standar pendidikan kita hari ini dari apa yang diberikan Al-Qur'an. Jika demikian, sudah berapa banyak sekolah, pesantren, bahkan perguruan tinggi yang sudah mengeluarkan orang dari buta huruf menurut standar Al-Qur'an?

Sejauh ini pesantren-pesantren kita yang diklaim sebagai sekolah Al-Qur'an, ternyata belum mampu menjamin tamatannya hafal Al-Qur'an 30 juz. Bahkan untuk keluar dari batas buta huruf saja, masih hal sangat berat untuk model pendidikan kita saat ini. Lalu dengan "pe-de" nya kita berangan-angan bahwa Islam akan bangkit dan jaya di tangan kita?

Share:

Part 1: Kurikulum Khatam Menghafal Al-Qur'an Sebelum Baligh

Oleh; H. Hannan Putra, Lc, MA,

Allah SWT berfirman,

وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا الۡقُرۡاٰنَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِنۡ مُّدَّكِرٍ

"Dan sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur'an sebagai zikir (peringatan). Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS al-Qamar: 17).

Ayat ini diulang sebanyak empat kali dalam Surat al-Qamar, sebagai taukid (penegasan) bahwa dijamin kemudahan dalam mempelajari dan menghafalnya. Bahkan, Allah SWT menantang kita untuk membuktikan janji Allah SWT tersebut. Adakah yang mau mencoba dan membuktikan kemudahannya?

Dari ayat ini kita yakin, tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang tidak mampu menghafal Al-Qur'an. Jadi, tidak ada istilah dalam kamus sekolah kita, "anak ini bisa menghafal Al-Qur'an dan anak yang ini tidak." 

Di sekolah kita khususnya, kita hanya mengklasifikasi kemampuan siswa berasarkan ketekunan dalam murajaah. Ada siswa yang 5 kali murajaah sudah hafal. Namun ada yang 10 kali, atau bahkan 20 kali baru bisa hafal. Pada akhirnya, semua siswa akan hafal. Hanya saja masing-masing siswa berbeda-beda dalam jumlah repetisi murajaah untuk bisa sampai hafal.

Inilah yang perlu kita fahami sebagai orang tua/ wali murid. Kurikulum yang saat ini dijalani sekolah kita telah dirancang agar siswa bisa khatam dalam menghafal Al-Quran di usia 10-12 tahun. Dan kurikulum inilah yang mayoritas juga diikuti oleh seluruh anak-anak penghafal Al-Qur'an di seluruh dunia.

Kurikulum yang dijalankan ini tidak bisa menunggu anak-anak yang tertinggal. Kurikulum ini menargetkan bahwa siswa harus selesai 30 juz sebelum usia baligh (10-12 tahun). Target ini dirancang para ulama dengan beberapa pertimbangan, diantaranya;

1. Jika siswa sudah menginjak usia 10-12 tahun (usia baligh) maka kemampuan otaknya untuk menghafal sudah mulai menurun. Setelah baligh, kemampuan otak tidak bisa lagi diilustrasikan sebagai "kertas putih".

2. Karena kemampuan otak sudah mulai menurun, bahkan anak sudah memiliki "beban" fikiran, makan akan memakan waktu lebih lama dari anak-anak yang menghafal di usia sebelum baligh. 

3. Kualitas hafalan Al-Qur'an mereka biasanya lebih buruk dari hafalan Al-Qur'an anak-anak sebelum baligh. Inilah yang dijaminkan oleh Nabi SAW,

من تعلم القرآن و هو فتي السن خلطه الله بلحمه ودمه

"Siapa yang mempelajari Al-Qur'an di usia belia, maka Allah akan mencampurkan Al-Qur'an tersebut dengan darah dan dagingnya." (At-Taariikhul Kabiir: iii /94).

Kita menyebutnya "Al-Qur'an telah mendarah daging". Dan inilah rahasianya, mengapa kita mentargetkan anak-anak kita harus hafidz 30 juz sebelum mereka baligh.

Lalu bagaimana jika anak kita ketinggalan atau belum lancar hafalannya? Mari kita kembali lagi ke rumus awal tadi. Tidak ada anak yang tidak mampu menghafal. Hanya saja repetisi muraja'ahnya kurang. Misalnya, kemampuan anak kita untuk sampai hafal adalah 10 kali pengulangan. Sementara kita hanya memberikannya 5 kali pengulangan.

Bagaimana kita mengetahui berapa jumlah repetisi untuk mengulang hafalan anak kita? Tidak ada yang tahu pasti jumlahnya sampai kita mencobanya. Mari kita lebih sabar mengulang dan terus mengulang. Hingga suatu saat hafalannya lancar, dan barulah ketemu angkanya. Mungkin bisa saja lancarnya baru di angka ke-15 atau ke-20, Wallahu'alam.

Inilah salah satu rahasia, mengapa ayat yang menjamin kemudahan menghafal Al-Qur'an diulang-ulang Allah dalam Surat al-Qamar. Mengajarkan kepada kita, bahwa salah satu cara mendapatkan kemudahan menghafal adalah dengan memperbanyak mengulang/ muraja'ah. Wallahu'alam.

_________________

*Pembina Sekolah Semut-Semut Payakumbuh, Ketua MUI Payakumbuh Selatan, Pendiri/ Wakil Pimpinan Pesantren ICBS Payakumbuh, Direktur Pusat Riset dan Kajian Islam Al-Azhar Centre Sumatera Barat

Share:

Prosedur PPDB t.a 2021 TAUD Semut-Semut Payakumbuh

Yth, Ayah Bunda Calon Wali Murid TAUD Semut-Semut Payakumbuh

Berikut ini kami sampaikan prosedur PPDB Semester Ganjil yang akan dilalui anak kita di TAUD Semut-Semut Payakumbuh;


1. Daftar On line.

- Mengisi blanko pendaftaran di Website sekolah;  www.SekolahSemutSemut.id

- Transver biaya pendaftaran Rp. 100 ribu ke Rekening BSM/BSI : 7145120847 a.n Sekolah 

  Semut-Semut Payakumbuh

- Mengirim bukti transver via WA ke 0812-6783-2423


2. Wawancara.

- Wawancara pendaftar Gel. 1 Dilaksanakan pada Ahad 23 Mei 2021 Pukul 10.00 s.d 11.30 WIB.

- Teknis wawancara dilaksanakan via Telpon.

- Orang Tua calon siswa yang telah wawancara akan digabungkan di group WA Sekolah.


3. Stadium General.

- Wajib dihadiri oleh kedua orang tua (ayah dan ibu) sampai selesai acara.

- Stadium General khusus diikuti siswa baru. Diadakan di kampus Semut-Semut pada tanggal 4 Juli 2021 

- Pertemuan Stadium General membahas seputar konsep sekolah komunitas, diskusi, dan kontrak

  belajar.


4. Uji Coba Sekolah.

- Siswa wajib mengikuti Masa Uji Coba belajar  selama 1 (satu) pekan.

- Masa uji coba siswa baru pada 5-9 Juli 2021

- Siswa boleh didampingi oleh orang tua (ibu) selama proses belajar berlangsung.

- Siswa wajib berpakaian muslim/muslimah serta membawa snack (makanan ringan dan air minum)


5. Kelulusan.

- Setelah 1 pekan masa uji coba sekolah, Guru dan orang tua calon siswa berdiskusi tentang layak

  atau tidaknya calon siswa bersekolah.

- Sekolah akan mengumumkan siswa yang lulus pada Tanggal 10 Juli 2021.

- Orang tua siswa wajib melunasi seluruh biaya selambat-lambatnya 1 (satu) pekan setelah

  pengumuman kelulusan.

  

6. Mulai Sekolah.

- Pembelajaran normal langsung dilaksanakan setelah masa uji coba sekolah selesai, yaitu pada

  Hari Senin 12 Juli 2021.

- Awal masuk sekolah mengikuti aturan pemerintah terkait teknis belajar di masa pandemi Covid 19.

- Siswa lama dan siswa baru yang berminat sudah bisa menggunakan jasa mobil antar-jemput siswa.




Share:

TAUD Semut-Semut Galang dana dan Sajikan Materi kePalestinaan untuk Siswa

PAYAKUMBUH-- Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina menjadi moment bagi guru di Sekolah Komunitas TAUD Semut-Semut untuk mendidik siswa. Penanaman materi kePalestinaan tentang kiblat pertama umat Islam, keutamaan Kota Suci umat Islam Palestina, dan seterusnya. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan penggalangan dana.

"Penggalangan dana kita selenggarakan tiga hari. Para siswa antusias dan punya kepedulian yang tinggi untuk Palestina. Ketika kita kisahkan bagaimana anak-anak Palestina, mereka berempati dan menyalurkan donasi," papar Kepala Sekolah TAUD Semut-Semut, Aulia Tivani SKM.

Selama tiga hari, ujar Ustadzah Vani, terkumpul donasi untuk Palestina sejumlah Rp 600 ribu. Dana tersebut berasal dari siswa, guru, dan walimurid. Adapun penyalurannya melalui ACT (Aksi Cepat Tanggap) Kantor Payakumbuh sejumlah Rp 350 ribu dan kepada Qudwah Indonesia sejumlah Rp 250 ribu. 

"Penyaluran dana ke Palestina disalurkan ke dua tempat. Rencana awal, penggalangan dana hanya satu hari dan langsung diserahkan ke pihak ACT. Namun besoknya anak-anak kita masih membawa infak untuk Palestina. Akhirnya kita terima dua hari lagi dan disalurkan ke Qudwah Indonesia yang kebetulan bersama dengan Ustadz Hannan," papar Ustadzah Vani.

"Semoga segala upaya kita mendidik anak-anak kita berempati dengan Palestina akan membentuk kepribadian yang baik bagi mereka," pungkas beliau.



Share:

Pengumuman Pelaksanaan Wawancara Gel.1 PPDB Sekolah Semut-Semut

Download Surat di sini


No : 5/Pan-PPDB-21/TAUD/Semut-Semut/V/2021

Lamp : -

Hal : Pengumuman


Yth, Ayah Bunda Calon Wali Murid

TAUD Semut-Semut Payakumbuh


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala Puji Bagi Allah SWT, Selawat dan Salam bagi Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Sehubungan dengan ditundanya jadwal sesi wawancara calon siswa baru disebabkan libur sekolah dan i'tikaf Ramadhan, maka jadwal wawancara yang sedianya dijadwalkan Ahad 2 Mei 2021 kami jadwalkan ulang menjadi Ahad 23 Mei 2021.

Adapun teknis pelaksanaannya sebagai berikut;

1. Sesuai arahan Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh tentang pelaksanaan kegiatan sekolah dan aturan Protokol Kesehatan dari Satgas Covid-19 Kota Payakumbuh, maka pelaksanaan sesi wawancara dilakukan secara daring (online) via telepon. Demi kelancaran acara, diminta kepada orang tua calon siswa untuk;

- Mengecek kesiapan alat komunitasi (batrai HP, paket data internet/ wifi, dsb).

- Kedua orang tua (ayah dan ibu) bersiap-siap menerima telpon dari pewawancara/ panitia PPDB pada waktu yang telah ditentukan.

- Mempersiapkan keperluan wawancara, yaitu; mushaf Al-Qur’an, angket wawancara tertulis orang tua yang sudah di print out.


2. Materi wawancara;

- Pewawancara akan meminta masing-masing orang tua calon siswa untuk membaca ayat Al-Qur’an yang ditentukan.

- Diskusi seputar konsep sekolah Al-Qur’an dan model sekolah komunitas.

- Keseharian anak di rumah dan pola komunitasi orang tua dengan anak.

- Komitmen orang tua calon siswa untuk mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah dan mematuhi peraturan sekolah.

-

3. Tim Pewawancara;

- Ustadz H. Hannan Putra, Lc, MA no HP. 0852-6322-2309

- Ustadz H. Muhammad Jamil Bakri, Lc no HP. 0823-8686-1026

- Ustadzah Aulia Tivani, SKM no HP. 0812-6783-2423

- Ustadzah Sri Handini, S.Ps.I no HP. 0852-6383-0364

- Ustadzah Nofia Hajar, S.Pd no HP. 0856-4000-1931

- Ustadzah Saskia, S.Pd, AUD no HP. 0822-8534-8717

- Ustadzah Qori Patricia, S.Pd no HP. 0895-2449-7432


4. Waktu wawancara ;

- Kelompok 1 : Pukul 10.00 WIB

- Kelompok 2 : Pukul 11.00 WIB


5. Sebelum sesi wawancara, orang tua calon siswa diwajibkan terlebih dahulu menonton video pemaparan profil dan konsep sekolah TAUD Semut-Semut Payakumbuh yang dapat di akses via website; www.sekolahsemutsemut.id atau via www.youtube.com. Orang tua calon siswa juga diharapkan membaca artikel-artikel pendidikan yang ada di website sekolah agar lebih memahami konsep sekolah.

Demikian surat ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami haturkan terima kasih banyak.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Payakumbuh, 19 Mei 2021

Kepala Sekolah TAUD Semut-Semut Payakumbuh,


Aulia Tivani, SKM


Share:

Mungkinkah Menyelesaikan Hafalan Al-Qur'an di Usia SD?

Oleh; H. Hannan Putra, Lc, MA

Pembina Sekolah Semut-Semut Payakumbuh, Wakil Pimpinan ICBS Payakumbuh

Sebagaimana tradisi anak-anak para Salafus Shaleh, anak-anak mereka kebanyakan hafal Al-Qur'an di rentang usia 7-10 tahun. Hal ini masih menjadi tradisi di Timur Tengah hingga hari ini. Di Mesir sendiri, untuk tamat SD di Al-Azhar harus selesai hafalan Al-Qur'an 30 juz.

Setiap bulan Ramadhan di negara seribu menara itu selalu diadakan Musabaqah Hifzul Qur'an (MHQ). Menariknya, peserta MHQ tersebut diikuti oleh anak-anak SD. Menjadi suatu kebanggaan bagi para orang tua ketika anaknya ikut dalam moment yang ditunggu-tunggu itu. Bahkan, jika anaknya tidak ikut maka si orang tua akan malu.

“Itu kan orang Arab, bagaimana dengan orang Indonesia?”

Pertanyaan ini sering ditanyakan para orang tua. Apakah mungkin anak-anak mereka di usia SD bisa hafal Al-Qur'an? Padahal anak-anak mereka bahkan belum bisa membaca Al-Quran.

Allah SWT menjamin kemudahan dalam menghafal Al-Qur'an sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Qamar ayat 17;

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

"Dan sesungguhnya Kami telah memudahkan Al-Quran untuk dipelajari. Maka adakah orang yang mengambil pelajaran?"

Ayat ini terus di ulang sebanyak empat kali dalam surat ini. Hal ini sebagai penegasan bahwa kemudahan Al-Quran untuk dipelajari (dihafal) benar-benar dijamin oleh Sang Khaliq. Ini yang harus kita yakini, bahwa Allah menjamin kemudahan menghafal Al-Quran baik untuk orang Arab dan 'Ajm (non-Arab). Allah akan membantu orang yang ikhlas dan sunguh-sungguh menghafal kitab-Nya.

Lantas bagaimana langkah untuk mewujudkan agar selesai hafalan Al-Qur'an tersebut di usia SD?

1. Niat yang ikhlas.

Niat menjadi unsur terpenting dalam memulai hafalan Al-Quran. Bahwa niat menghafal Al-Quran semata-mata mencari ridha Allah SWT. Hanya berujung murka dan laknat Allah jika menuntut ilmu diniatkan untuk mendapatkan dunia. Sebagaimana Sabda Nabi SAW,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Siapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya bertujuan untuk mendapatkan wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia. Maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat." (HR. Abu Daud no.3664, Ibnu Majah no.252, dan Ahmad 2/338).

2. Tekat yang kuat dengan keterlibatan seluruh pihak.

Keterlibatan seluruh pihak mulai dari si anak, ayah dan ibu, guru di sekolah, hingga lingkungan tempat anak-anak berinteraksi haruslah kondusif dan seluruhnya mendukung tercapainya target tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an,

فَأَرَدْنَآ أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَوٰةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

"Dan kita menginginkan supaya Tuhan mereka memberikan ganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu, dan lebih dalam kasih sayangnya." (QS. al-Kahfi: 81).

Ayat ini memakai dhamir (kata ganti) "نَآ (kami)" sebagai bentuk keterlibatan seluruh elemen dalam mewujudkan anak yang sukses. Menyerahkan seluruh urusan pendidikan kepada pihak sekolah tentu bukanlah langkah yang bijak, sementara anak diamanahkan Allah kepada orang tuanya.

Demikian juga peran orang tua yang mungkin kurang ilmu, perlu mencari guru yang tepat untuk mendidik anaknya. Karena dalam menghafal Al-Quran wajib untuk berguru. Sinergitas sekolah dan rumah perlu terjalin baik. Kolaborasi guru dan orang tua dalam mendidik yang akan menghantarkan keberhasilan anak dalam menghafal Al-Quran. Di sekolah anak ditalqin, di rumah dilakukan sima'ah. Di sekolah muraja'ah, di rumah juga.

3. Kurikulum yang benar.

Al-Quran sebagai induk dan sumber dari seluruh ilmu punya karakter tersendiri dalam menghafalnya. Bahwa menghafal Al-Quran tidak bisa dinomorduakan. Inilah kesalahan kebanyakan sekolah yang menjadikan pelajaran menghafal Al-Qur'an sebagai eks-skul atau pelajaran tambahan. Ingat, Al-Quran tidak mau dinomorduakan!

Jika sebuah sekolah benar-benar menginginkan muridnya menyelesaikan hafalan Al-Quran, maka sekolah tersebut menjadikan porsi menghafal Al-Quran sebagai hal utama. Seluruh pelajaran selain Al-Quran menjadi sampingan. Maka Insya Allah, ketika Al-Qur'an dinomorsatukan dan menjadi prioritas utama, maka akan dibantu Allah SWT dalam menyelesaikan hafalannya.

SDQ Semut-Semut Payakumbuh memilih fokus utama untuk mengkhatamkan Al-Quran. Itulah alasannya tidak bisa lagi mengadopsi kurikulum yang disediakan oleh Dinas Pendidikan. Para orang tua diminta memilih, kurikulum apa yang akan dijadikan sebagai acuan Pendidikan bagi anaknya. Apakah ingin menghafal Al-Quran atau kurikulum yang ada.

Ibarat seorang petani yang akan menanam satu tanaman. Dia harus memilih, jenis tanaman apa yang akan ditanam. Karena tidak ada satu tanaman yang bisa berbuah pisang, mangga, durian, dan sebagainya. Jadi, ketika sudah memilih kurikulum menghafal Al-Quran, tidak akan maksimal lagi jika memakai kurikulum Dinas Pendidikan atau kemerintrian Agama.

Lantas bagaimana dengan ijazah? Insya Allah anak yang sudah hafal Al-Quran sanggup dengan bisa dengan mudah menyerap ilmu lain. Ia sudah terbiasa menghafal, maka ia dengam mudah bisa menghafal materi-materi pelajaran. Maka bagi para orang tua yang tetap menginginkan anaknya berijazah, akan dikhususkan waktu mengejar ketertinggalan pelajaran di kelas 6 untuk bisa ujian Paket A. Jadi polanya dibalik. Al-Qur'an yang utama, yang lain menjadi sampingan.

Jadi, manakah yang kita pilih? Wallahu'alam, kami di SDQ Semut-Semut berkeyakinan. Tidak akan ada sekolah SMP manapun yang mau menolak anak yang hafal Al-Quran 30 juz, walau hanya membawa ijazah paket A. Itu alasannya, mengapa anak-anak kita harus hafal Al-Quran di usia SD.

4. Kalkulasi menghafal dengan ketersediaan waktu.

Sebenarnya dengan kalkulasi standar saja, anak sudah bisa hafal Al-Quran ketika tamat kelas 4 SD. Kalkulasi kasarnya sebagai berikut;

- 1 tahun = 365 hari.

- 1 tahun pelajaran = 300 hari (Dikurangi 52 hari Ahad dan 12 Hari libur nasional dalam setahun).

- Setiap anak menghafal Al-Quran setengah halaman setiap hari.

- Kelas 1 - 4 = 4 tahun

- 4 tahun x 300 hari belajar = 1.200 hari belajar.

- Jumlah halaman dalam mushaf Al-Quran 604 dibulatkan menjadi 600 halaman.[1]

- Jika setiap hari menghafal setengah halaman, berarti 600 x 2 = 1.200 Hari belajar.

- 1.200 Hari belajar -> 4 tahun.

Catatan

1. Tentu saja ini hanya hitungan kasar. Target setengah halaman sehari bagi siswa adalah target terendah. Karena untuk level TAUD saja (usia 4 - 5,5 tahun) siswa TAUD Semut-Semut payakumbuh bisa menghafal 3/4 halaman sehari.

22. Kekuatan menghafal semakin hari akan semakin bertambah. Berdasarkan pengalaman kami, anak yang sudah hafal 2 juz akan semakin mudah menghafal. Demikian juga ketika sudah memiliki hafalan 10, 15, 20, dan seterusnya. Target berkali-kali lipat bisa diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

33. Kalaupun anak tidak selesai dalam empat tahun, masih ada waktu dua tahun lagi untuk muraja'ah dan pemantapan. Intinya, ketersediaan waktu sangat melimpah untuk menyelesaikan hafalan Al-Quran.

4. Di kelas empat, anak-anak diberikan kesempatan untuk saling berpacu menyelesaikan hafalan Al-Quran. Ibarat lomba lari, kelas 4 merupakan lap terakhir yang masing-masing peserta akan saling berpacu. Menghafal Al-Quran juga ibarat perlombaan (fastabiqul khairat), jadi hafalan anak-anak di kelas ini akan sangat bervariasi.

Bagaimana ayah bunda? Sudah siap menjadikan anak khatam hafalan Al-Quran di usia SD?



[1] Satu halaman surat Al-Fatihah pasti sudah hafal. Kemudian 3 halaman belakang yang merupakan ayat pendek juga umumnya sudah hafal. 604 halaman bisa dikerucutkan menjadi 600 halaman.

Share:

PEMBINA

PEMBINA

VIDEO TESTIMONI TOKOH

Temukan di Facebook